
DEFINISI RIBA
Secara literal, riba bermakna tambahan (al-ziyadah)[1].
Sedangkan menurut istilah; Imam Ibnu al-‘Arabiy mendefinisikan riba dengan;
semua tambahan yang tidak disertai dengan adanya pertukaran kompensasi.[2] Imam
Suyuthiy dalam Tafsir Jalalain menyatakan, riba adalah tambahan yang dikenakan
di dalam mu’amalah, uang, maupun makanan, baik dalam kadar maupun waktunya[3].
Di dalam kitab al-Mabsuuth, Imam Sarkhasiy menyatakan bahwa riba adalah
al-fadllu al-khaaliy ‘an al-‘iwadl al-masyruuth fi al-bai’ (kelebihan atau
tambahan yang tidak disertai kompensasi yang disyaratkan di dalam jual beli).
Di dalam jual beli yang halal terjadi pertukaran antara harta dengan harta.
Sedangkan jika di dalam jual beli terdapat tambahan (kelebihan) yang tidak
disertai kompensasi, maka hal itu bertentangan dengan perkara yang menjadi
konsekuensi sebuah jual beli, dan hal semacam itu haram menurut syariat.[4]
Dalam Kitab al-Jauharah al-Naiyyirah, disebutkan; menurut syariat, riba adalah
aqad bathil dengan sifat tertentu, sama saja apakah di dalamnya ada tambahan
maupun tidak. Perhatikanlah, anda memahami bahwa jual beli dirham dengan dirham
yang pembayarannya ditunda adalah riba; dan di dalamnya tidak ada tambahan[5].
Di dalam Kitab Nihayat al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaaj,
disebutkan; menurut syariat, riba adalah ‘aqd ‘ala ‘iwadl makhshuush ghairu
ma’luum al-tamaatsul fi mi’yaar al-syar’ haalat al-‘aqd au ma ta`khiir fi
al-badalain au ahadihimaa” (aqad atas sebuah kompensasi tertentu yang tidak
diketahui kesesuaiannya dalam timbangan syariat, baik ketika aqad itu
berlangsung maupun ketika ada penundaan salah satu barang yang ditukarkan)[6].
Dalam Kitab Hasyiyyah al-Bajairamiy ‘ala al-Khathiib
disebutkan; menurut syariat, riba adalah ‘aqd ‘ala ‘iwadl makhshuush ghairu
ma’luum al-tamaatsul fi mi’yaar al-syar’ haalat al-‘aqd au ma ta`khiir fi
al-badalain au ahadihimaa” (aqad atas sebuah kompensasi tertentu yang tidak
diketahui kesesuaiannya dalam timbangan syariat, baik ketika aqad itu
berlangsung maupun ketika ada penundaan salah satu barang yang ditukarkan,
maupun keduanya)”. riba dibagi menjadi tiga macam; riba fadlal, riba yadd, riba
nasaa`[7]. Pengertian riba semacam ini juga disebutkan di dalam Kitab Mughniy
al-Muhtaaj ila Ma’rifat al-Faadz al-Minhaaj.[8]
HUKUM RIBA
Seluruh ‘ulama sepakat mengenai keharaman riba, baik yang
dipungut sedikit maupun banyak. Seseorang tidak boleh menguasai harta riba; dan
harta itu harus dikembalikan kepada pemiliknya, jika pemiliknya sudah
diketahui, dan ia hanya berhak atas pokok hartanya saja.
Al-Quran dan sunnah dengan sharih telah menjelaskan
keharaman riba dalam berbagai bentuknya; dan seberapun banyak ia dipungut.
Allah swt berfirman;
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبا لا يَقُومُونَ
إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ
قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ
الرِّبا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ
إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Orang-orang yang makan (mengambil)
riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan
syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu,
adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu
sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu
terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya
dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang
yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya”. [TQS Al Baqarah (2): 275].
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ، فَإِنْ لَمْ
تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ
رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah,
bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari
pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak
(pula) dianiaya”. [TQS Al Baqarah (2): 279].
Di dalam sunnah, Nabiyullah Mohammad saw
دِرْهَمُ رِبَا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ
يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ زِنْيَةً
“Satu dirham riba yang dimakan
seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka itu lebih berat
daripada enam puluh kali zina”. (HR Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah).
الرِبَا ثَلاثَةٌَ وَسَبْعُوْنَ بَابًا
أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ, وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عَرْضُ
الرَّجُلِ الْمُسْلِمَ
“riba itu mempunyai 73 pintu, sedang
yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menzinai ibunya, dan
sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan seorang muslim”. (HR Ibn
Majah).
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّباَ وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ, وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ
“Rasulullah saw melaknat orang
memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya.
Belia bersabda; Mereka semua sama”. (HR muslim)
Di dalam Kitab al-Mughniy, Ibnu Qudamah mengatakan, “riba
diharamkan berdasarkan Kitab, sunnah, dan Ijma’. Adapun Kitab, pengharamannya
didasarkan pada firman Allah swt,”Wa harrama al-riba” (dan Allah swt telah
mengharamkan riba) (Al-Baqarah:275) dan ayat-ayat berikutnya. Sedangkan sunnah;
telah diriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda, “Jauhilah oleh
kalian 7 perkara yang membinasakan”. Para shahabat bertanya, “Apa itu, Ya
Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh
jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak
yatim, lari dari peperangan, menuduh wanita-wanita Mukmin yang baik-baik
berbuat zina”. Juga didasarkan pada sebuah riwayat, bahwa Nabi saw telah
melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya”.[HR. Imam
Bukhari dan Muslim]…Dan umat islam telah berkonsensus mengenai keharaman
riba.”[9]
Imam al-Syiraaziy di dalam Kitab al-Muhadzdzab menyatakan;
riba merupakan perkara yang diharamkan. Keharamannya didasarkan pada firman
Allah swt, “Wa ahall al-Allahu al-bai` wa harrama al-riba” (Allah swt telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba)[Al-Baqarah:275], dan juga
firmanNya, “al-ladziina ya`kuluuna al-riba laa yaquumuuna illa yaquumu
al-ladziy yatakhabbathuhu al-syaithaan min al-mass” (orang yang memakan riba
tidak bisa berdiri, kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan setan)”.
[al-Baqarah:275]…..Ibnu Mas’ud meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya
Rasulullah saw melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya”.
[HR. Imam Bukhari dan Muslim][10]
Imam al-Shan’aniy di dalam Kitab Subul al-Salaam mengatakan;
seluruh umat telah bersepakat atas haramnya riba secara global[11].
Di dalam Kitab I’aanat al-Thaalibiin disebutkan; riba
termasuk dosa besar, bahkan termasuk sebesar-besarnya dosa besar (min akbar
al-kabaair). Pasalnya, Rasulullah saw telah melaknat orang yang memakan riba,
wakil, saksi, dan penulisnya. Selain itu, Allah swt dan RasulNya telah
memaklumkan perang terhadap pelaku riba. Di dalam Kitab al-Nihayah dituturkan bahwasanya
dosa riba itu lebih besar dibandingkan dosa zina, mencuri, dan minum
khamer.[12] Imam Syarbiniy di dalam Kitab al-Iqna’ juga menyatakan hal yang
sama[13].Mohammad bin Ali bin Mohammad al-Syaukaniy menyatakan; kaum muslim
sepakat bahwa riba termasuk dosa besar.[14]
Imam Nawawiy di dalam Syarh Shahih muslim juga menyatakan
bahwa kaum muslim telah sepakat mengenai keharaman riba jahiliyyah secara
global[15]. Mohammad Ali al-Saayis di dalam Tafsiir Ayaat Ahkaam menyatakan,
telah terjadi kesepakatan atas keharaman riba di dalam dua jenis ini (riba
nasii’ah dan riba fadlal). Keharaman riba jenis pertama ditetapkan berdasarkan
al-Quran; sedangkan keharaman riba jenis kedua ditetapkan berdasarkan hadits
shahih[16]. Abu Ishaq di dalam Kitab al-Mubadda’ menyatakan; keharaman riba
telah menjadi konsensus, berdasarkan al-Quran dan sunnah[17].
Jenis-jenis riba
riba terbagi menjadi empat macam; (1) riba nasiiah (riba
jahiliyyah); (2) riba fadlal; (3) riba qaradl; (4) riba yadd.
riba Nasii`ah. riba Nasii`ah adalah tambahan yang diambil
karena penundaan pembayaran utang untuk dibayarkan pada tempo yang baru, sama
saja apakah tambahan itu merupakan sanksi atas keterlambatan pembayaran hutang,
atau sebagai tambahan hutang baru. Misalnya, si A meminjamkan uang sebanyak 200
juta kepada si B; dengan perjanjian si B harus mengembalikan hutang tersebut
pada tanggal 1 Januari 2009; dan jika si B menunda pembayaran hutangnya dari
waktu yang telah ditentukan (1 Januari 2009), maka si B wajib membayar tambahan
atas keterlambatannya; misalnya 10% dari total hutang. Tambahan pembayaran di
sini bisa saja sebagai bentuk sanksi atas keterlambatan si B dalam melunasi
hutangnya, atau sebagai tambahan hutang baru karena pemberian tenggat waktu
baru oleh si A kepada si B. Tambahan inilah yang disebut dengan riba nasii’ah.
Adapun dalil pelarangannya adalah hadits yang diriwayatkan
Imam muslim;
الرِّبَا فِيْ النَّسِيْئَةِ
” riba itu dalam nasi’ah”.[HR Muslim
dari Ibnu Abbas]
Ibnu Abbas berkata: Usamah bin Zaid telah menyampaikan
kepadaku bahwa Rasulullah saw bersabda:
آلاَ إِنَّمَا الرِّبَا فِيْ النَّسِيْئَةِ
“Ingatlah, sesungguhnya riba itu
dalam nasi’ah”. (HR muslim).
riba Fadlal. riba fadlal adalah riba yang diambil dari
kelebihan pertukaran barang yang sejenis. Dalil pelarangannya adalah hadits
yang dituturkan oleh Imam muslim.
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ
وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ
بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ
هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ
“Emas dengan emas, perak dengan
perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam
dengan garam, semisal, setara, dan kontan. Apabila jenisnya berbeda, juallah
sesuka hatimu jika dilakukan dengan kontan”.HR muslim dari Ubadah bin Shamit
ra).
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ
مِثْلًا بِمِثْلٍ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ فَمَنْ
زَادَ أَوْ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبًا
“Emas dengan emas, setimbang dan
semisal; perak dengan perak, setimbang dan semisal; barang siapa yang menambah
atau meminta tambahan, maka (tambahannya) itu adalah riba”. (HR muslim dari Abu
Hurairah).
عن فضالة قال: اشتريت يوم خيبر قلادة باثني
عشر دينارًا فيها ذهب وخرز، ففصّلتها فوجدت فيها أكثر من اثني عشر ديناراً، فذكرت ذلك
للنبي صلّى الله عليه وسلّم فقال: ”لا تباع حتى تفصل“
“Dari Fudhalah berkata: Saya membeli
kalung pada perang Khaibar seharga dua belas dinar. Di dalamnya ada emas dan
merjan. Setelah aku pisahkan (antara emas dan merjan), aku mendapatinya lebih
dari dua belas dinar. Hal itu saya sampaikan kepada Nabi saw. Beliau pun
bersabda, “Jangan dijual hingga dipisahkan (antara emas dengan lainnya)”. (HR
muslim dari Fudhalah)
Dari Said bin Musayyab bahwa Abu Hurairah dan Abu Said:
أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم بعث
أخا بني عدي الأنصاري فاستعمله على خيبر، فقدم بتمر جنيب [نوع من التمر من أعلاه وأجوده]
فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: ”أكلّ تمر خيبر هكذا“؟ قال: لا والله يا رسول
الله، إنا لنشتري الصاع بالصاعين من الجمع [نوع من التمر الرديء وقد فسر بأنه الخليط
من التمر]، فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: ”لا تفعلوا ولكن مثلاً بمثل أو بيعوا
هذا واشتروا بثمنه من هذا، وكذلك الميزان“
“Sesungguhnya Rasulullah saw
mengutus saudara Bani Adi al-Anshari untuk dipekerjakan di Khaibar. Kamudia dia
datang dengan membawa kurma Janib (salah satu jenis kurma yang berkualitas
tinggi dan bagus). Rasulullah saw bersabda, “Apakah semua kurma Khaibar seperti
itu?” Dia menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah . Sesunguhnya kami membeli satu
sha’ dengan dua sha’ dari al-jam’ (salah satu jenis kurma yang jelek,
ditafsirkan juga campuran kurma). Rasulullah saw bersabda, “Jangan kamu lakukan
itu, tapi (tukarlah) yang setara atau juallah kurma (yang jelek itu) dan
belilah (kurma yang bagus) dengan uang hasil penjualan itu. Demikianlah
timbangan itu”. (HR muslim).
riba al-Yadd. riba yang disebabkan karena penundaan
pembayaran dalam pertukaran barang-barang. Dengan kata lain, kedua belah pihak
yang melakukan pertukaran uang atau barang telah berpisah dari tempat aqad
sebelum diadakan serah terima. Larangan riba yadd ditetapkan berdasarkan
hadits-hadits berikut ini;
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلَّا هَاءَ
وَهَاءَ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ
رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ
“Emas dengan emas riba kecuali
dengan dibayarkan kontan, gandum dengan gandum riba kecuali dengan dibayarkan
kontan; kurma dengan kurma riba kecuali dengan dibayarkan kontan; kismis dengan
kismis riba, kecuali dengan dibayarkan kontan (HR al-Bukhari dari Umar bin
al-Khaththab)
الْوَرِقُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلَّا هَاءَ
وَهَاءَ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ
رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالتَّمْرُِالتَّمْرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ
“Perak dengan emas riba kecuali
dengan dibayarkan kontan; gandum dengan gandum riba kecuali dengan dibayarkan
kontan kismis dengan kismis riba, kecuali dengan dibayarkan kontan; kurma
dengan kurma riba kecuali dengan dibayarkan kontan“. [Ibnu Qudamah, Al-Mughniy,
juz IV, hal. 13]
riba Qardl. riba qaradl adalah meminjam uang kepada
seseorang dengan syarat ada kelebihan atau keuntungan yang harus diberikan oleh
peminjam kepada pemberi pinjaman. riba semacam ini dilarang di dalam islam
berdasarkan hadits-hadits berikut ini;
Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Burdah bin
Musa; ia berkata, ““Suatu ketika, aku mengunjungi Madinah. Lalu aku berjumpa
dengan Abdullah bin Salam. Lantas orang ini berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya
engkau berada di suatu tempat yang di sana praktek riba telah merajalela.
Apabila engkau memberikan pinjaman kepada seseorang lalu ia memberikan hadiah
kepadamu berupa rumput kering, gandum atau makanan ternak, maka janganlah
diterima. Sebab, pemberian tersebut adalah riba”. [HR. Imam Bukhari]
Juga, Imam Bukhari dalam “Kitab Tarikh”nya, meriwayatkan
sebuah Hadits dari Anas ra bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Bila ada yang
memberikan pinjaman (uang maupun barang), maka janganlah ia menerima hadiah
(dari yang meminjamkannya)”.[HR. Imam Bukhari]
Hadits di atas menunjukkan bahwa peminjam tidak boleh
memberikan hadiah kepada pemberi pinjaman dalam bentuk apapun, lebih-lebih lagi
jika si peminjam menetapkan adanya tambahan atas pinjamannya. Tentunya ini
lebih dilarang lagi.
Pelarangan riba qardl juga sejalan dengan kaedah ushul fiqh,
“Kullu qardl jarra manfa’atan fahuwa riba”. (Setiap pinjaman yang menarik
keuntungan (membuahkan bunga) adalah riba”.[Sayyid Saabiq, Fiqh al-sunnah,
(edisi terjemahan); jilid xii, hal. 113]
Praktek-praktek riba yang sering dilakukan oleh bank adalah
riba nasii’ah, dan riba qardl; dan kadang-kadang dalam transaksi-transaksi
lainnya, terjadi riba yadd maupun riba fadlal. Seorang muslim wajib menjauhi
sejauh-jauhnya praktek riba, apapun jenis riba itu, dan berapapun kuantitas
riba yang diambilnya. Seluruhnya adalah haram dilakukan oleh seorang muslim.
[Syamsuddin Ramadhan An Nawiy- Lajnah Tsaqafiyyah HTI
]
[1] Imam Thabariy, Tafsir al-Thabariy, juz 6, hal. 7; Ibnu
al-‘Arabiy, Ahkaam al-Quraan, juz 1, hal. 320; Mohammad Ali As-Saayis, Tafsiir
Ayaat al-Ahkaam, juz 1, hal. 16; Subulus Salam, juz 3, 16; al-Mabsuuth, juz 14,
hal. 461; Abu Ishaq, Al-Mubadda’, juz 4, hal. 127; al-‘Inayah Syarh al-Hidayah,
juz 9, hal. 291; al-Jauharah al-Nayyiirah, juz 2, hal. 298; Mughniy al-Muhtaaj
ila Syarh al-Faadz al-Minhaaj, juz 6, hal. 309; Kitab Hasyiyyah al-Bajiiramiy
‘ala al-Khathiib, juz 7, hal.328; Syarh Muntahiy al-Idaraat, juz 5, hal. 10;
Imam al-Jashshash, Ahkaam al-Quran, juz 2, hal. 183; Imam al-Jurjaniy,
al-Ta’riifaat, juz 1, hal. 146; Imam al-Manawiy, al-Ta’aariif, juz 1, hal. 354;
Abu Ishaq, Al-Mubadda’, juz 4, hal. 127; al-Bahutiy, al-Raudl al-Murbi’, juz 2,
hal. 106; Kasyaaf al-Qanaa’, juz 3, hal. 251; Imam Ibnu Qudamah, Al-Mughniy,
juz 4, hal. 25; Imam Al-Dimyathiy, I’anat al-Thaalibiin, juz 3, hal. 16; Imam
Syaukaniy, Nail al-Authar, juz 5, 273;
[2] Imam Ibnu al-‘Arabiy, Ahkaam al-Quran, juz 1, hal. 321
[3] Imam Suyuthiy, Tafsir Jalalain, surat al-Baqarah:275
[4] al-Mabsuuth, juz 14, hal. 461; Fath al-Qadiir,juz 15,
hal. 289
[5] Kitab al-Jauharah al-Naiyyirah, juz 2, hal. 298
[6] Kitab Nihayat al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaaj, juz 11,
hal. 309; lihat juga Asniy al-Mathaalib, juz 7, hal. 471.
[7] Kitab Hasyiyyah al-Bajiiramiy ‘ala al-Khathiib, juz 7,
hal.328
[8] Mughniy al-Muhtaaj ila Syarh al-Faadz al-Minhaaj, juz 6,
hal. 309
[9] Imam Ibnu Qudamah, Al-Mughniy, juz 4, hal. 25
[10] Imam al-Syiraaziy, al-Muhadzdzab, juz 1, hal. 270
[11] Imam al-Shan’aaniy, Subul al-Salaam, juz 3, hal. 36
[12] Imam Al-Dimyathiy, I’anat al-Thaalibiin, juz 3, hal. 16
[13] Imam Syarbiniy, Kitab al-Iqna’, juz 2, hal. 633.
[14] Imam Syaukaniy, Sail al-Jiraar, juz 3, hal. 74
[15] Imam Nawawiy, Syarh Shahih muslim, juz 11, hal. 9
[16] Mohammad Ali al-Saayis, Tafsiir Ayat al-Ahkaam, juz 1,
hal. 162
[17] Abu Ishaq, al-Mubadda’, juz 4, hal. 127